Dari Keterlukaan Berujung Pelukan
Kejadian 45: 1–15; Mazmur 133; Roma 11: 1–2a, 29–32; Matius 15: 21–28
Dalam lirik lagu berjudul “Runtuh” yang dinyanyikan oleh Feby Putri danFiersa Besari, ada penggalan lirik yang bertuliskan, “kita adalah manusiayang terluka”. Penggalan lirik itu menandakan bahwa setiap orang pastipernah merasa terluka di dalam hati. Luka karena ditolak, disalahpahami, dikhianatioleh teman, rekan sekerja, bahkan mungkin oleh orang-orang yang paling dekat, yaitukeluarga. Luka itu bisa sangat menyakitkan karena ia diam-diam menetap, menyelinap,dan menggerogoti hidup dalam sekejap.
Banyak tokoh dalam Alkitab yang mengalami keterlukaan, satu di antaranyaadalah Yusuf. Pada masa mudanya, Yusuf telah bertubi-tubi mengalami keterlukaan.Ia yang mengalami keterlukaan paling dalam karena dijual oleh saudara-saudaranya,tetapi pada akhir kisahnya, bukan balas dendam yang ia berikan, melainkan sebuahpelukan yang di dalamnya berlimpah pengampunan. Pada titik ini, Yusuf menampakkansemangat rekonsiliatif. Menariknya, bagaimana mungkin luka yang begitu dalamberubah menjadi pelukan yang begitu hangat?
Pada Minggu Biasa Keduapuluh ini, umat diajak untuk menyusuri kelanjutan kisah Yusuf dalam bacaan Kejadian 45:1-15 dan Mazmur 133. Melalui kisah Yusuf, umat akan belajar bagaimana mengubah rasa sakit menjadi kasih yang menyembuhkan. Awalnya terluka, berubah jadi pembawa cinta. (feeg)