Doa, Harapan, dan Realitas
Kejadian 25: 19–34; Mazmur 119: 105–112; Roma 8: 1–11; Matius 13: 1–9, 18–23
Doa adalah kata yang tidak asing bagi orang yang beragama dan yang percaya kepada Allah. Doa seringkali dipahami sebagai salah satu cara berkomunikasi manusia dengan Allah. Dengan berdoa seseorang memberitahukan apa yang menjadi persoalan dan pergumulan hidupnya. Melalui doa, ia meminta dan memohon pertolongan Allah. Tentunya, siapa pun yang berdoa, ia berharap sekali doanya didengarkan oleh Allah dan dikabulkan. Realitasnya? Belum tentu hal itu terjadi. Seseorang yang berdoa ingin memiliki anak mungkin tidak dikaruniai anak, atau sebaliknya, ia diberikan anak-anak yang justru membuat hidupnya menjadi sulit.
Dari hal sederhana ini, kita melihat ada perbedaan antara harapan dan realitas. Keinginan tidak selalu sama atau sesuai dengan apa yang terjadi. Kondisi ini bisa menjadi sumber kekecewaan. Namun, kekecewaan itu dapat menjadi sesuatu yang berharga. Untuk itu, kita perlu memahami perbedaan yang ada sehingga terjadi penyesuaian dan kesesuaian mencapai tujuan. Siapa harus menyesuaikan? Bukankah hidup harus terus berlanjut dan tujuan harus mewujud? Kehendak Allah (band. Mat.4: 10) atau kita, manusia (band. Mat. 15: 28)?
Dengan mempunyai harapan, umat dapat memikirkan akan memiliki yang baik, bahkan yang sempurna. Namun, melalui realitas, umat belajar memahami dan menyadari bahwa hidup tidak selalu berjalan baik, apalagi sempurna. Dengan memahami hal tersebut, maka umat Allah akan menyadari bahwa hidup bukan hanya tentang tujuan, melainkan tentang menemukan makna hidup dengan kesadaran dan syukur dalam setiap peristiwa yang dialami. Dalam kenyataan hidup, umat Allah selalu akan menemukan yang baik, bahkan ada hal baik dalam hal yang buruk sekalipun.
Pada Minggu Biasa Kelimabelas ini, umat akan belajar memahami harapan dan realitas dari pengalaman hidup Ishak dan Ribka dalam rangka keberlanjutan rencana perjanjian Allah dengan Abraham. Melalui kehidupan mereka, umat dapat belajar untuk menyesuaikan doa dan harapannya, serta menyikapi realitas hidup dan membuat hidup tetap bermakna. (jol)