Hanya Kristus Harapanku
Matius 11: 18–25
Kita tentu pernah mengalami krisis dalam kehidupan. Sakit yang tak kunjung sembuh. Lelah mental karena tekanan pekerjaan. Surut harapan karena tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Menjadi korban pemutusan hubungan kerja. Bisnis yang sedang lesu. Kondisi ekonomi keluarga yang sangat terbatas. Menjadi korban bencana alam dan berbagai krisis hidup lainnya. Sangat wajar dan manusiawi jika kita mencari pertolongan ke sana ke mari karena krisis yang dialami kerap memicu rasa cemas dan panik. Terlebih lagi, kita tidak memiliki kemampuan untuk melihat secara pasti seperti apa masa depan yang akan kita hadapi — semuanya masih berupa teka-teki yang samar.
Keterbatasan itu mengingatkan kita bahwa kita adalah manusia yang rapuh. Namun, di tengah segala kerapuhan itu, Allah yang melampaui kita kini hadir bersama kita. Ia menyertai kita bukan dengan memberikan solusi instan atas persoalan hidup, atau dengan membalikkan penderitaan menjadi kemudahan. Ia beserta kita dengan cara yang paling mendalam: menjadi manusia sejati seperti kita. Maka, dalam segala keterbatasan, seharusnya kita menyadari bahwa kita tidak sendirian. Di dalam krisis terdapat perjumpaan dengan Kristus, bahwa bersama Kristus, selalu ada kekuatan, betapa pun berat jalan yang kita tempuh. (VI)