Kebangkitan Kristus Membarui Ciptaan
Matius 28: 1–10
Dalam Minggu Paskah ini kita akan membaca Kitab Suci dengan menggunakan pendekatan hermeneutika ekologis. Harus diakui bahwa selama ini kita membaca Kitab Suci dengan pendekatan antroposentris yang berpusat pada manusia sehingga bumi sering kali terabaikan, serta mengalami eksploitasi dan penindasan.
Yang dimaksud dengan “bumi” di sini adalah ekosistem total, yakni jaringan kehidupan di mana manusia dan makhluk lain terjalin erat. Hermeneutika ekologis mengembalikan peran bumi sebagai subjek dalam teks Kitab Suci.
Norman C. Habel menawarkan enam prinsip untuk membaca Kitab Suci di dalam perspektif ekologis. Pertama, alam semesta dan bumi memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar alat bagi manusia. Kedua, bumi adalah komunitas kehidupan, di mana semua makhluk saling terhubung dan bergantung. Ketiga, bumi adalah subjek yang dapat bersuara, termasuk menentang ketidakadilan. Keempat, alam semesta dan bumi adalah bagian dari desain kosmik, masing-masing memiliki makna di dalam rencana Allah. Kelima, keseimbangan dan keragaman bumi penting, sehingga masing-masing dapat menjadi mitra dalam menjaga kehidupan. Keenam, bumi bukan sekadar objek pasif, karena bumi mampu melawan ketidakadilan.
Membaca Kitab Suci di dalam perspektif ekologis mengharuskan kita bertanya secara kritis: apakah teks memberi keadilan bagi bumi? Apakah bumi hanya dilihat sebagai sumber daya bagi manusia, atau juga sebagai subjek bernilai? Apakah bumi diperlakukan sebagai suara yang hidup, atau hanya sebagai objek eksploitasi?
Dengan sudut pandang ini, kita dapat melihat bahwa kebangkitan Kristus adalah wujud kasih Allah, bukan hanya bagi manusia, tetapi juga bagi seluruh ciptaan. (lm)