Bukan yang Tampak, Melainkan Dampak
Yesaya 58: 1–12; Mazmur 112: 1–10; 1 Korintus 2: 1–16; Matius 5: 13–20
Orang sering hanya fokus pada tampilan kulit daripada sesuatu yang lebih hakiki. Sesuatu atau seseorang yang memiliki tampilan baik dan menarik sering mendapatkan perhatian lebih daripada sesuatu atau seseorang yang benar-benar memiliki kualitas yang lebih menyeluruh. Akibatnya, yang dikejar bukanlah berdasarkan sesuatu yang sangat penting, seperti kebenaran Firman Tuhan, melainkan hal-hal yang sekadar menarik dan indah tetapi tak bermakna. Tidak jarang hal semacam ini juga dibungkus dengan sesuatu yang kelihatan rohani. Semua itu dikejar hanya demi mendapatkan penghormatan-penghormatan semu dari sekitar.
Orang seperti itu sejatinya bukannya tak memahami pesan Firman Tuhan. Misalnya, saat dirinya belajar tentang identitas sebagai garam dan terang dunia. Tujuannya belajar Firman Tuhan bukan untuk mewartakan Allah, tetapi hanya agar dirinya dilihat sebagai orang yang saleh dan religius. Bahkan, melalui semua yang ia lakukan, ia mendapatkan keuntungan-keuntungan sesaat yang bisa membuat hidupnya lebih nyaman.
Bacaan leksionari Minggu ini mengingatkan untuk kembali menggali hal utama ketika menggumulkan hidup yang memberi dampak, yaitu hidup seturut kebenaran Allah secara penuh dan utuh, bukan hanya di kulitnya saja. Pengikut Kristus diajak untuk kembali kepada yang utama, bahwa kehadiran setiap pengikut Kristus bukanlah kehadiran yang kebetulan. Tuhan menghendaki kehadiran para pengikut Kristus berdampak baik dan sebisa mungkin menuntun orang untuk merasakan juga kebaikan Allah yang sudah lebih dahulu dirasakan oleh pengikut- Nya.
Semua itu dapat terjadi bila hidup para pengikut Kristus berada dalam pimpinan Roh Kudus. Tanpa pimpinan Roh Kudus, hidup dalam kebenaran adalah sesuatu yang mustahil. Maka, memohon senantiasa pimpinan dan kuasa Roh Kudus dalam kehidupan adalah sesuatu yang perlu terus diupayakan diperjuangkan. Demikian juga ketika kebenaran yang sejati dinyatakan, kebahagiaan akan jauh lebih besar, menguatkan dan bertahan lebih lama. Kebahagiaan tersebut terjadi karena kebahagiaan tersebut berasal dari Tuhan, bukan dari pujian manusia belaka. Dengan menemukan kembali esensi kehidupan tersebut, maka setiap pengikut Kristus siap diutus Allah ke dalam dunia. (KD)