Makin Disukai Allah dan Sesama
1 Samuel 2: 18–20, 26; Mazmur 148; Kolose 3: 12–17; Lukas 2: 41–52
Menjadi pribadi yang disukai orang lain merupakan kebanggaan bagi setiap orang. Bisa jadi termasuk kita. Dengan disukai, kita akan dikenal orang. Dampaknya, kita jadi terkenal dan punya banyak penggemar atau pengikut. Tidak heran jika orang berlombal0mba untuk dapat disukai oleh orang lain. Tidak jarang seseorang yang mempunyai media sosial –Facebook, Instagram, YouTube, Youtube, dan sebagainya– berusaha mengunggah konten-konten yang bisa membuat orang lain senang dan menyukainya. Demikian juga dalam kehidupan sehari-hari, orang berusaha untuk memberikan sesuatu hal yang bermanfaat, agar disukai orang lain.
Menjadi pribadi yang disukai oleh manusia amat menyenangkan, apalagi disukai oleh Allah. Pribadi yang disukai Allah adalah pribadi yang dirahmati Allah dan hidup seturut dengan kehendak-Nya. Rahmat atau anugerah Allah menjadikan manusia terpanggil untuk hidup dengan rendah hati, taat kepada kehendak Allah dengan sepenuh hati.
Bacaan Injil hari ini mengajarkan keteladanan Tuhan Yesus. Kehadiran-Nya menjadi berkat bagi kehidupan. Bersama orang-orang yang dikasihi dan mengasihi-Nya, Ia bertumbuh dalam hikmat dan besar- Nya. Karena itu Ia semakin disukai oleh Allah dan manusia. Teladan itu membuat kita dipanggil merespons anugerah Allah yang dinyatakan dalam hidup kita agar bersama Dia semua bertumbuh dalam kasih karunia Allah dan disukai Allah dan sesama.