Minggu, 22 Maret 2026

Dari Kematian Menuju Kehidupan

Yehezkiel 37: 1–14; Mazmur 130; Roma 8: 6–11; Yohanes 11: 1–45

Selama masa Prapaskah, gereja menetapkan masa 40 hari agar umat berpuasa dan bertobat. Gereja sedang menghayati masa sengsara dengan mawas diri, laku puasa, berdoa, berderma, pemulihan relasi manusia, dan jangan ditinggalkan pemulihan relasi dengan alam. Pada Minggu V Prapaskah 2025 ini bacaan ekumenis diambil dari Injil Yohanes 11: 1–45 yang didahului dengan Yehezkiel 37: 1–14, Mazmur 130, dan Roma 8: 6–11. Kita akan menghayati kisahkisah yang berisi tentang spirit pertobatan yaitu perubahan dan perkembangan kehidupan menuju ke arah yang baik: rusak menjadi pulih, pesimis menuju optimis, putus asa menjadi berpengharapan, dan kematian menuju kehidupan. Semua hal tersebut bersumber dari kasih karunia Allah. Bacaan-bacaan ini diarahkan ke tema Paskah Ekologis, menyegarkan spirit kita akan perubahan dari arah kematian alam menuju kehidupan, sekaligus mengasah kepekaan tanggung jawab sebagai pelaku penyebab kematian alam itu menjadi pro kehidupan.

Harus diakui, kondisi yang menyeret pada situasi kerusakan, pesimis, putus asa, dan kematian memang tak terelakkan dalam kehidupan kita. Sesuai tema masa paskah tahun ini yang bertajuk Paskah Ekologis, kita diajak peka dan tanggap akan adanya proses menuju kematian alam. Alam yang rusak tak bisa dibiarkan. Saat ini alam dijadikan sebagai obyek yang dieksploitasi untuk kepentingan dan keserakahan manusia sehingga laju kerusakan alam pada tahap sangat mengkhawatirkan. Sebagai contoh, data info grafis BNPB yang dikutip Walhi dalam Tinjauan Lingkungan Hidup Walhi 2023: Terdepan di Luar Lintasan menunjukkan jumlah bencana setiap tahun didominasi oleh bencana banjir, longsor dan cuaca ekstrim (Ghofar, Abdul dkk. 2023:6). Dari sudut pandangnya, Walhi mendefinisikan kondisi tersebut dengan istilah “Bencana ekologis” yang berarti:

“Akumulasi krisis ekologis yang disebabkan oleh ketidakadilan dan gagalnya system pengurusan alam sehingga mengakibatkan hancurnya daya dukung dan daya tampung lingkungan serta rusaknya ekosistem dan kehidupan rakyat.”

Dari data tersebut, Walhi juga memperkirakan intensitas fenomena alam ekstrem di tengah situasi krisis iklim akan terus meningkatkan intensitas bencana ekologis di Indonesia. Hal ini nyata terjadi hari ini dan mungkin ke depan. Semua tampak suram dan menakutkan.

Oleh karena itu, kita harapkan hidup ini ada perubahan dan perkembangan menuju ke arah yang lebih baik: rusak menjadi pulih, pesimis menuju optimis, putus asa menjadi berpengharapan, dan kematian menuju kehidupan. “Hari esok harus lebih baik!” (sil)

Picture of gkibintama
gkibintama
No events to display.
No events to display.