Kesahajaan Bukan Keserakahan
Kejadian 2: 15–17, 3: 1–7; Mazmur 32: 1–7; Roma 5: 12–19; Matius 4: 1–11
Menyoal keserakahan, dengan lugas Gandhi menyatakan bahwa sejatinya dunia ini cukup untuk memenuhi kebutuhan semua orang, tetapi tidak untuk keserakahan semua orang. Ungkapan yang digaungkan oleh Gandhi ini rasanya masih tetap relevan ketika diperjumpakan dengan realitas hidup di masa kini. Sebuah penelitian yang diterbitkan oleh UNICEF pada tahun 2011 mengungkapkan: Jika seluruh penduduk dunia ini (100%) dibagi menjadi lima bagian, maka sebanyak 20% orang kaya pertama menghabiskan 82,8% dari total seluruh pendapatan dunia. Artinya, sekira 17% dari pendapatan dunia ini diperebutkan oleh sebanyak 80% dari seluruh penduduk dunia yang terpecah dalam empat kelas social lainnya (20% kedua mengonsumsi 9,9%; 20% ketiga berebut 4,2%; 20% keempat rebutan 2,1%; menyisakan 1% bagi 20% penduduk dunia kelima). Akibat dari keserakahan itu amat sangat miris. Data menunjukkan bahwa di seluruh dunia ini, sekitar 25.000 orang mati karena kelaparan pada setiap harinya.
Fakta memilukan itu sungguh kontras dengan tujuan mula Allah menciptakan manusia. Alkitab mempersaksikan bahwa sejak awal dunia diciptakan, manusia pertama diberi mandat oleh Allah bukan untuk menjadi pribadi yang serakah dan tamak. Tuhan Allah memerintahkan Adam dan Hawa untuk mengelola alam semesta dengan mengerjakan dan memeliharanya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari ruang kehidupannya. Namun demikian, tugas dengan tujuan mulia dari Allah itu pun gagal ditunaikan oleh manusia pertama. Lagi-lagi, perilaku serakah ini menjadi akar dari kegagalan manusia yang lalu berakibat pada kejatuhannya ke dalam dosa. Larangan yang justru dilanggar ini menunjukkan betapa purba sekaligus berbahayanya dosa serakah.
Di satu sisi, sejak awal dan seterusnya Allah merindukan manusia sebagai ciptaan-Nya untuk merawat dengan baik, bumi dan segala isinya. Artinya, saat mengusahakan bumi bagi dirinya, kesahajaan (kewajaran; secukupnya) mesti menjadi sikap yang melandasi gerak karya manusia. Namun di sisi lain, dosa keserakahan yang ditandai dengan keinginan untuk menguasai semuanya hanya bagi dirinya justru menjadi pilihan yang mendominasi. Menghadapi itu semua, Allah tidak menyerah atas manusia. Hadir-Nya Yesus, Anak Tunggal Allah ke tengah dunia, menjadi cara yang dipilih Allah untuk menyelamatkan manusia. Sebelum karya-Nya di dunia dihadirkan, Yesus menunjukkan kepada manusia bagaimana cara melawan dosa serakah melalui pencobaan di padang gurun yang dialai-Nya. Betapa Ia yang adalah Putra Allah, justru memilih langkah sahaja ketika diperhadapkan pada berbagai kemudahan serta gemerlap dunia.
Melalui pembacaan sabda serta perenungannya pada hari ini, sebagai umat Tuhan, kita diajak untuk menghayati hidup beriman kepada Allah melalui lelaku hidup kesahajaan. Tema “Kesahajaan bukan Keserakahan” menjadi pengingat bagi kita semua untuk mewaspadai dosa keserakahan yang senantiasa mengintip di celah pintu hati manusia. Untuk dapat terhindar dari potensi dosa serakah ini, kita diajak belajar dari sikap Tuhan Yesus di awal sebelum Ia memulai karya pemberitaan Injil Kerajaan Allah di tengah dunia. Ketundukan hanya kepada Allah yang dihadirkan oleh Yesus, menjadi pandu bagi langkah kita saat diperhadapkan pada tawaran untuk menjadi serakah atas dunia. Sikap hidup bersahaja atas dunia menolong kita dalam menjalani peran untuk mengerjakan dan merawat alam semesta. (ASY)