Teguh Berserah Pantang Menyerah
Kejadian 32: 22–31; Mazmur 121; 2 Timotius 3: 14–4: 5; Lukas 18: 1–8
Salah satu fenomena yang timbul dalam Milenium Ketiga adalah generasi stroberi. Pemilihan nama stroberi untuk menggambarkan buah yang terlihat bagus dari luar, tetapi rapuh terhadap tekanan. Artinya, generasi memiliki banyak ide dan kreativitas yang tinggi namun sering menyerah saat menghadapi tekanan sosial. Contoh nyata dari generasi ini bisa dilihat di media sosial, di mana banyak anak muda berbagi konten kreatif namun juga sering mencurahkan rasa cemas, sedih, dan stres. Sehingga dianggap kurang tahan banting dan sering mencari ‘healing’ (pemulihan) untuk mengatasi tekanan.
Generasi stroberi memiliki karakteristik yang unik dan khas sesuai dengan konteks zaman modern. Pertama, kemudahan dan kecepatan dunia teknologi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, membuat generasi ini memiliki kebiasaan mudah merasa bosan, kurang fokus, dan sulit menghadapi tekanan. Kedua, cenderung bersifat sensitif atau kepekaan emosional yang tinggi. Perubahan dan keterbukaan dalam budaya digital di satu sisi membuat generasi ini mampu merespons dengan kuat terhadap isu-isu sosial, lingkungan, dan kesejahteraan mental. Namun di sisi lain, juga meningkatkan tekanan dan kecemasan untuk menyesuaikan diri. Beberapa gejala yang diamati adalah mendiagnosis diri, mencari bantuan atau memilih mundur. Mereka lebih memilih untuk menghindari situasi yang dianggap “toxic”. Ketiga, dibalik kerapuhan kulit generasi stroberi, tersembunyi potensi positif yang dalam. Mereka tidak ragu untuk mencoba hal-hal baru dan berusaha memahami perubahan yang terjadi di sekitar mereka. Mereka mampu berpikir out of the box dan menemukan solusi kreatif untuk mengatasi masalah. Mereka memiliki toleransi terhadap pemahaman yang berbeda. Generasi stroberi cenderung menerima perbedaan pandangan dan bersikap lebih terbuka terhadap keragaman.
Generasi dan mentalitas stroberi adalah bagian realitas tantangan kehidupan keluarga Kristen saat ini. Penghayatan akan kehadiran Allah yang membangun, meneguhkan dan memelihara setiap keluarga Kristen dinyatakan dalam nilai spiritualitas untuk bersikap bijak menghadapi generasi dan mentalitas stroberi, antara lain dengan tindakan mengelola emosi, berani mandiri dan bertanggung jawab serta memiliki ketahanan mental dan kemampuan mengatasi masalah, sehingga bukan lagi dikenal generasi stroberi sebagai buah yang rapuh, tetapi buah yang manis dan indah. (YKN)