Integritas yang Membangun dan Menjaga Keterpercayaan
Yohanes 5: 1–18
Apa yang menjadi dasar dari sikap percaya seseorang pada orang lain? Apa yang menyebabkan seseorang memiliki keterpercayaan? Pertanyaan sederhana dan terkesan praktis ini pada dasarnya telah menjadi subyek studi sosial bertahun-tahun. Sikap percaya dan keterpercayaan (trust dan trustworthy) dalam realitas kehidupan bukan hal yang muncul secara otomatis dengan sendirinya. Hal ini juga bukan sekedar pengetahuan yang dapat begitu saja diterapkan. Apakah saya sebagai seorang individu percaya kepada rekan kerja saya di kantor dan bersedia untuk berbagi kerja bersama, atau pada tetangga yang berada di kompleks perumahan tempat saya tinggal sehingga saya tidak kuatir ketika keluar rumah, atau kepada pendeta yang berada di gereja di mana saya akan menceritakan beberapa rahasia hidup saya. Semua itu membutuhkan banyak elemen yang diproses untuk sampai pada kesimpulan bahwa saya dapat percaya dan orang lain itu dapat dipercaya. Belum lagi ketika kita berbicara tentang sikap percaya di tengah masyarakat luas. Bagaimana tingkat kepercayaan umat beragama tertentu di hadapan umat beragama yang berbeda, atau relasi suatu kelompok suku tertentu dengan suku lainnya, atau keterpercayaan sistem ekonomi negara. Hal terakhir ini disebut sebagai sikap percaya secara sosial (social trust) yang jauh lebih kompleks karena berbicara tentang relasi yang lebih abstrak terkait masyarakat luas. Para pemikir sosial menyebut percaya sosial ini sebagai bagian penting dari modal sosial (social capital). Semuanya, baik sikap percaya interpersonal maupun sosial, adalah sebuah sikap yang sungguh-sungguh dapat menjaga kehidupan bersama, menghindarkan masyarakat dari kebencian dan persengketaan, serta memelihara persekutuan bahkan perdamaian. Menjadi percaya atau memiliki keterpercayaan pada dasarnya bukan sekedar masalah praktis sederhana tetapi jauh lebih mendalam, sebagai hal etis bahkan teologis. Sikap percaya atau menjadi terpercaya perlu dipahami sebagai nilai moral dan nilai yang membangun makna hidup. Konsekuensinya, rasa percaya dan keterpercayaan itu juga memerlukan nilai-nilai lain yang mendukungnya.
Hal yang banyak dibicarakan untuk membangun keterpercayaan dalam kehidupan sehari-hari adalah pengalaman. Semakin baik kita memiliki pengalaman yang positif dengan seseorang atau sesuatu, maka akan semakin kita berani meletakkan kepercayaan kita kepadanya. Sebaliknya semakin rendah pengalaman kita bersama seseorang atau sesuatu, maka semakin berkurang keberanian kita untuk percaya. Hal ini juga berlaku ketika kita berbicara tentang seseorang yang terpercaya atau tidak. Semakin seseorang atau kelompok masyarakat menyediakan pengalaman yang positif maka semakin ia menjadi terpercaya. Sampai di sini pertanyaan baru kemudian muncul, apa yang dapat menghadirkan pengalaman yang mendukung keterpercayaan? Pengalaman yang dibicarakan di sini tidak selalu berarti semua hal-hal yang menyenangkan seperti yang kita inginkan. Pengalaman perlu dilihat sebagai ruang untuk setiap pihak dapat terlibat belajar, berproses, dan mengembangkan diri. Apa yang telah kita bicarakan pada alinea pertama tentang ‘percaya – keterpercayaan sebagai nilai hidup’ dapat bergabung di sini. Pengalaman adalah sebuah ruang untuk berproses pada kesadaran nilai yang membentuk rasa percaya. Di sini kembali kita tiba pada apa yang sudah disinggung di atas, yaitu nilai hidup yang kuat, yang diperjuangkan dan menjadi pilar dari setiap relasi untuk saling percaya dan memiliki keterpercayaan.
Dalam kepemimpinan modern kita memahami bahwa hal yang paling utama bukanlah sekedar berbicara tentang otoritas, kekuasaan, atau gaya kepemimpinan tertentu. Seorang pemimpin atau sebuah kepemimpinan akan menjadi terpercaya ketika mereka sungguh-sungguh memiliki nilai hidup yang mengarahkannya pada visi dan kebajikan yang jelas di tengah pengalaman. Sampai di sini kita dapat melihat ada benang merah yang menarik. Kepemimpinan harus berbasis pada nilai, dan nilai itu harus dapat membangun rasa percaya secara kuat, yang pada akhirnya menghadirkan keterpercayaan pada pemimpin, relasi yang lebih luas secara interpersonal maupun sosial. Tema kita tentang integritas pada dasarnya berbicara mengenai komitmen dan konsistensi untuk memahami nilai yang membangun rasa percaya – keterpercayaan itu. (HH)