Baptisan Yesus sebagai Solidaritas Allah
Yesaya 43: 1–7; Mazmur 29; Kisah Para Rasul 8: 14–17; Lukas 3: 15–17, 21–22
Harus diakui baptisan merupakan salah satu tema yang mengundang polemik dalam iman Kristiani. Ada kelompok yang mengutamakan cara dan media pembaptisan, usia yang tepat untuk menerima sakramen baptis, atau kelompok-kelompok yang mengagungkan baptisan Roh yang kemudian dikaitkan dengan karunia-karunia Roh tertentu. Apa dampak polemik-polemik di seputar baptisan? Apakah kesaksian sebagai komunitas orang Kristen semakin hebat, atau malah sebaliknya? Kenyataannya, melelahkan! Kita kehilangan banyak energi untuk memberitakan kesaksian tentang cinta kasih Allah di dalam Kristus. Kita kehilangan banyak waktu untuk memaknai kembali hal yang sangat mendasar dari sebuah peristiwa pembaptisan.
Benar, dalam Alkitab banyak perikop di seputar baptisan. Dalam gereja purba (mula-mula), Perjanjian Baru memberi kesan adanya pemahaman terhadap dua macam baptisan, yakni baptisan air dan baptisan Roh sebagai dua hal yang terpisah. Ada yang mula-mula baptisan air, lalu menerima baptisan Roh, umpamanya yang terekam dalam bacaan kita hari ini (Luk. 3:16 dan Kis. 8:16-17). Ada yang sebaliknya, mula-mula menerima baptisan Roh dan kemudian baptisan air (Kis. 10:44-47). Peristiwa-peristiwa baptisan dalam gereja purba itu menunjukkan belum adanya kesatuan utuh dalam sebuah baptisan.
Namun, perkembangan selanjutnya dari gereja purba itu, menyatakan adanya ketetapan utuh dan satu mengenai baptisan (Ef. 4:5; I Kor. 12: 13) karena hal itu sejalan dengan baptisan yang diterima oleh Yesus sendiri (Luk. 3:21-22 dan yang paralelnya). Peristiwa baptisan Yesus jelas, la dibaptis dengan air dan kemudian Roh Kudus turun ke atas-Nya. Tindakan gereja purba yang lebih kemudian ini menunjukkan ditetapkannya satu baptisan secara utuh sesuai dengan amanat Tuhan Yesus Kristus sendiri (Mat. 28: 18-20).
Mari, kita gunakan energi dan waktu yang Tuhan berikan untuk memaknai hal mendasar dari peristiwa baptisan kita bercermin pada pembaptisan Tuhan Yesus sendiri.