Minggu, 1 Februari 2026

Berbahagia yang Benar

Mikha 6: 1–8; Mazmur 15; 1 Korintus 1: 18–31; Matius 5: 1–12

Akhir-akhir ini, muncul fenomena yang disebut banyak orang sebagai “standar Tik Tok”. Fenomena ini muncul karena semakin masifnya quote, kata-kata “bijak”, ataupun kalimat-kalimat yang terdengar menggugah di media sosial yang begitu mudah untuk diakses siapa pun. Fenomena “standar TlkTok” terdengar menggugah karena harus diakui bahwa tidak semua standar tersebut tepat, bahkan tak jarang bertolak belakang dengan apa yang dikatakan Firman Tuhan. Contoh sederhananya ada standar yang berbunyi, “Selain donator dilarang ngatur.” Kalimat ini terlihat seolah-olah benar, dengan mengatakan agar jangan ikut campur dengan masalah orang bila tidak punya kontribusi dalam hidup orang tersebut. Namun, bagaimana bila pemahaman ini jatuh pada hal yang lebih dalam dan mengkhawatirkan? Misalnya, orang akan lebih senang untuk diatur Oleh uang dan orang yang punya kuasa dengan uangnya, padahal apa yang dituju bukanlah kebenaran yang diperintahkan Allah. Ini semua sejalan dengan apa yang dikatakan Henri Nouwen. Nouwen mengatakan ada tiga hal yang dapat membuat seseorang dapat jatuh yaitu, “I am what I have, am what I can do, I am what others say about me.” Seseorang bisa melakukan hal yang buruk demi mencapai tiga hal tersebut. Mereka tidak lagi memedulikan apakah cara menjalani ketiga hal ini seturut dengan kehendak Allah atau tidak.

Persoalan lainnya adalah dengan begitu mudahnya konten semacam itu diakses, orang Kristen menjadi lebih memercayai, atau setidaknya melihat kata-kata seperti itu menjadi opsi atau dasar untuk menjalani hidup mereka, dan tidak lagi memperhatikan firman Tuhan dengan baik. Banyak orang merasa bahwa standar seperti itu lebih mudah dilakukan, lebih terhubung (relate) dengan kehidupan mereka Saat ini dan mernandang Alkitab sebagai sesautu yang rumit dan tak mudah untuk dipelajari dan dinyatakan.

Lalu standar apa yang harus dimiliki? Apa kata Alkitab mengenai standar hidup orang Kristen? Standar tersebut dapat dipahami melalui kata-kata dari ucapan bahagia yang diberikan Tuhan Yesus kepada orang Israel, sebuah ucapan bahagia yang berasal dari ketidakbahagiaan menurut ukuran dunia. Kristus, melalui ucapan bahagia yang la nyatakan, mengundang urnat untuk melihat bahwa dalam kasih-Nya, ada hidup yang dapat disyukuri, diperjuangkan dan diupayakan dengan maksimal, asal landasannya adalah firman Tuhan. Yang terlebih penting, bukan dunia yang menjadi ukuran. Dunia tak lagi menjadi hal penting ketika kehidupan berdasarkan standar bahagia yang diajarkan Tuhan. Melalui perenungan firman Tuhan pada Minggu IV sesudah Epifani ini, Tuhan menampakkan diri melalui hikmat dan firman yang menggugah untuk kembali mengandalkan Tuhan seutuhnya. Umat diajak kembali untuk melihat betapa kaya, indah, dan hebatnya firman Allah bagi kehidupan. (KD)

Picture of gkibintama
gkibintama
No events to display.
No events to display.