Jagalah Hatimu supaya Kuat
Yeremia 33: 14–16; Mazmur 25: 1–10; 1 Tesalonika 3: 9–13; Lukas 21:25-36
Minggu ini gereja-gereja di seluruh dunia memasuki Masa Adven. Masa Adven merupakan kesempatan bagi gereja untuk menghayati keberadaannya di dunia. Apakah hidupnya dalam kesiap-siagaan untuk menantikan kedatangan-Nya kembali ataukah sibuk dengan aneka rutinitas keseharian? Rutinitas yang berubah menjadi rutinisme membius dan menghilangkan kesadaran. Hilangnya kesadaran ibarat orang yang mabuk. Kemabukan yang dialami manusia bukan hanya terkait dengan minuman beralkohol, namun juga bisa jadi karena hilangnya kesadaran diri. Orang yang tidak sadar akan kehilangan kepekaan terhadap situasi di sekitarnya. Bagaimana sikap gereja terhadap mereka yang disisihkan dari tengah masyarakat karena stigma tertentu? Bagaimana sikap gereja terhadap pencemaran lingkungan? Seperti apa sikap gereja terhadap para penyandang disabilitas?
Minggu Adven Pertama yang dihayati pada awal bulan Desember ini berdekatan dengan Hari AIDS Sedunia (tanggal 1 Desember); Hari Pencegahan Polusi Sedunia (tanggal 2 Desember); Hari Penyandang Disabilitas (tanggal 3 Desember). Dengan dilandasi oleh firman Tuhan, Minggu Adven pertama mengajak umat memaknai hari Tuhan dengan memperhatikan pemenuhan hak hidup bagi semua orang, tanpa terkecuali. Jagalah hatimu supaya kuat yang menjadi tema ibadah hari ini mengingatkan umat agar hidupnya dipenuhi kewaspadaan, tidak dalam kemabukan. Hati yang kuat membuat orang peka. Kepekaan mewujud pada kepedulian terhadap kehidupan. Untuk itu, umat diajak untuk berjuang bersama Tuhan sebab jika sendirian, umat tidak akan mampu. Sambil menyongsong kembali-Nya, jadilah kuat agar hatimu dipenuhi belas kasih, kemurahan hati dan pengharapan menyongsong Dia yang akan datang kembali.