Menyadari Sisi Gelap Menyambut Terang
1 Samuel 16: 1–13; Mazmur 23; Efesus 5: 8–14; Yohanes 9: 1–41
Masa Pra-Paskah mengundang umat untuk hidup di dalam pertobatan dan penyangkalan diri. Mengapa? Karena sejatinya hati manusia condong pada kebebalan dan dosa. Manusia cenderung melihat kesalahan orang lain dan merasa kebenaran hanya ada pada dirinya sendiri. Ketidakmampuan melakukan refleksi diri membuat seseorang sulit melihat kelemahan dalam dirinya sendiri. Akibatnya, tidak ada kesadaran diri bahwa tindakan-tindakan yang dilakukannya bisa jadi keliru atau salah.
Di Indonesia, kata “khilaf” menjadi bagian dari ketidaksadaran diri atas kesalahan-kesalahan yang dilakukan seseorang. Kata “khilaf” sendiri akrab terdengar dalam aneka percakapan, terutama saat ditemukan adanya pihak yang melakukan kesalahan. Contohnya, “Pak, maaf saya khilaf.” Kalimat tersebut merupakan ungkapan dari seseorang yang meminta maaf karena tanpa sadar telah melakukan kesalahan. Apabila pencuri sedang beraksi di minimarket, apakah orang-orang di sekitarnya akan mendekati pencuri tersebut dan menepuk bahunya serta berkata, “Sadar mas … Plis sadar …”? Tentu saja tidak! Tindakan mencuri tentunya dilakukan dengan sadar dan sengaja. Namun, kelak ketika pencuri itu tertangkap dan diinterogasi pihak berwajib, bisa jadi ia akan mengeluarkan sebuah kata pamungkas, “Maaf, saya KHILAF.” Kata yang sebenarnya digunakan untuk pembenaran diri.
Bacaan leksionari pada Minggu IV Masa Pra-Paskah ini mengajak umat untuk menyadari akan kelemahan insaninya karena dosa. Ketika seseorang mengakui dosanya, ia pun mengakui kebutuhannya akan Juru Selamat. Ia tahu bahwa ia berada dalam kegelapan dan membutuhkan Yesus sebagai Terang Dunia. Upaya mencari kebenaran akan kandas jika ia mencarinya di luar Yesus Kristus, Sang Terang Dunia. Hanya di dalam Yesus akan ditemukan makna dan identitas kehidupan yang sejati. (ikt)